MEMUTUSKAN MATA RANTAI KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK SECARA TERPADU

  • Stephanus Turibius Rahmat PG PAUD FKIP Unika Santu Paulus Ruteng

Abstrak

Kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat dari waktu ke waktu. Kasus kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi fenomena gunung es.Hal ini disebabkan kebanyakan anak yang menjadi korban kekerasan seksual takut untuk melapor kepada orang tua atau keluarga. Karena itu, sebagai orang tua harus dapat mengenali tanda-tanda anak yang mengalami kekerasan seksual. Kekerasan seksual terhadap anak akan berdampak panjang, di samping berdampak pada masalah kesehatan di kemudian hari, juga berkaitan dengan trauma yang berkepanjangan, bahkan hingga dewasa. Dampak trauma akibat kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak, antara lain: pengkhianatan atau hilangnya kepercayaan anak terhadap orang dewasa (betrayal); trauma secara seksual (traumatic sexualization); merasa tidak berdaya (powerlessness); dan stigma (stigmatization). Secara fisik memang mungkin tidak ada hal yang harus dipermasalahkan pada anak yang menjadi korban kekerasan seksual, tetapi secara psikis bisa menimbulkan ketagihan, trauma, bahkan pelampiasan dendam. Bila tidak ditangani serius, kekerasan seksual terhadap anak dapat menimbulkan dampak sosial yang luas di masyarakat. Penanganan dan penyembuhan trauma psikis akibat kekerasan seksual haruslah mendapat perhatian besar dari semua pihak yang terkait, seperti keluarga, masyarakat maupun negara. Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap anak perlu ditingkatkan. Perlindungan terhadap anak dapat dilakukan denganmenerapkan sistem kesejahteraan sosial bagi anak-anak dan keluarga, sistem peradilan dan hukum yang dapat menimbulkan efek jera bagi para pelaku tindakan kekerasan seksual. Selain itu, upaya perlindungan terhadap anak dapat dilakukan dengan mendorong perilaku yang tepat dalam kehidupan bersama di masyarakat, memperkuat peran individu dan keluarga, memperkuat peran sekolah. Upaya-upaya ini sebagai salah satu solusi yang strategis untuk memutuskan mata rantai kekerasan terhadap anak.

Diterbitkan
2020-01-01