SCHOOL AND CATHOLIC RELIGIOUS EUDCATION IN PLURAL SOCIETY: BUILDING DIALOGUE AND PREVENTING RADICALISM

Keywords: Catholic Religious Education, Pluralism, Radicalism, Dialogue

Abstract

This article is motivated by the concern of the phenomenon of religious-based intolerance and radicalism in Indonesia. Perpetrators of these attitudes and behaviors occur in many educational settings by educated individuals. There have been cases where radicalism happens because schools are developing religious education, which is exclusive and not open to pluralism in society. Therefore, this article develops ideas/thoughts about schools and Catholic Religious Education (CRE) relevant in the context of pluralism in Indonesia to prevent religious intolerance and radicalism. Schools can be pluralism-friendly homes by making them a positive space for diversity and a place for humanist dialogical education. In Indonesian pluralism, Catholic Religious Education helps students know their religious faith and get to know other religions, have a dialogue with the truths of other religions, and even learn from other religions. PAK in the Indonesian context must contribute to building the personality and attitude of students who are inclusive, dialogical, humanist, and fair. CRE should not be used as an apologetic tool for the sake of defending the truth of Catholicism narrowly and exclusively. Through CRE, students are helped to become individuals and Indonesians who are tolerant, fair, and dignified

References

Arifin, A. H. A. 2012. “Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Praksis Pendidikan di Indonesia.” Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 1(1), 72-82.

Asrori, A., 2015. “Radikalisme di Indonesia: Antara historisitas dan antropisitas.” Kalam, 9(2), 253-268.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2017, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, Kelas I.

Hakam, K.A., 2011. “Pengembangan Model Pembudayaan Nilai-Moral dalam Pendidikan Dasar di Indonesia: Studi Kasus di Sekolah Dasar Negeri Bandungrejosari 1 Kota Malang, Jawa Timur”. Sosiohumanika, 4(2).

Hamami, T., 2004. “Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum sebagai Keharusan Sejarah.” Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(2), pp.171-191.

Hasim, M., 2015. “Potensi Radikalisme di Sekolah Studi Terhadap Buku Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar.” EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, 13(2).

Heryatno, Wano Wulung FX. 2008. Pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

Jebarus, E. 2008. Sejarah Persekolahan di Flores. Maumere: Penerbit Ledalero

Khaulani, Fatma, Nevriyarni, S dan Irda Murni, 2020. “Fase dan Tugas Perkembangan Anak Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, 7 (1): 51-59

Ma’rifah, I., 2012. Rekonstruksi Pendidikan Agama Islam: Sebuah upaya membangun kesadaran multikultural untuk mereduksi terorisme dan radikalisme Islam.

Mahfud, Choirul. 2006. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Maksum, Ali. 2002. Pluralisme dan Multikulturalisme Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia, Yogyakarta: Grasindo.

Muchith, M.S., 2016. “Radikalisme dalam dunia pendidikan.” Addin, 10(1), pp.163-180.

Muliadi, Erlan, 2012. “Urgensi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di Sekolah, Jurnal Pendidikan Islam 1 (1): hlm 55-68

Mulyono, G.P. and Mulyoto, G.P., 2017. Radikalisme agama di Indonesia (ditinjau dari sudut pandang sosiologi kewarganegaraan). Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 5(1), pp.64-74.

Murni, 2017. Perkembangan Fisik, Kognitif dan Psikososial pada Masa Kanak-kanak Awal 2-6 Tahun. Jurnal Ar Raniry 3 (1).

Natalia, A., 2016. “Faktor-Faktor Penyebab Radikalisme Dalam Beragama (Kajian Sosiologi Terhadap Pluralisme Agama Di Indonesia).” Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 11(1), pp.36-56.

Nurasarastriya, Y. H. (2015). Radikalisme dan Terorisme di Indonesia dari Masa ke Masa (Tinjauan dari Perspektif Kewarganegaraan). PAX HUMANA, 2(2 Mei), 189-204

Nur Kholis Setiawan, Darius Dubut. 2008. Dialog Antarumat Beragama: membuka babak baru dalam hubungan antarumat beragama.

.

Paulson, Chris. 2017. Shame: The Root of Violence, USA

Riyad, Abdala, dkk, 2010. “Understanding Violent Radicalization among Muslims: A Review of the Literatute,” Journal of Physchology and Behavioral Science, Griffith Research Online.

Sholikin, A., 2018. “Intoleransi, Radikalisme Dan Terorise Di Lamongan.” Jurnal Polinter: Kajian Politik dan Hubungan Internasional, 4(1), pp.1-20.

Steenbrink, K. 1994. Pesantren Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Jakarta: LP3ES

Tanggur, F.S. and Nitte, Y.M., 2019. “Praktik Pendidikan Agama pada Siswa-Siswi Non Katolik di Sekolah Dasar Katolik Se-Kota Kupang.” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio, 11(2), pp.306-316.

Tilaar, H.A.R. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia, Jakarta: Grasindo

Umro, J., 2018. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mencegah Radikalisme Agama Di Sekolah. JIE (Journal of Islamic Education), 2(1).

Wahid, Y. Z., Vulovik, V., Azhari, M. S., Ferdhi, G., Dja'far, A., Irawan, A., & Nisa, N. (2015). Laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) 2015. The WAHID Institute.

Wahuni, I., 2017. Membangun Pluralisme Siswa melalui Pendidikan Agama Islam di Sekolah Non Muslim. DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora, 4(1), pp.56-73.

Widyawati, F. and Lon, Y.S., 2020. Politik Pendidikan Agama di Indonesia dan Pelaksanaannya di Salah Satu Kampus Katolik di Flores. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, 6(1), pp.13-26.

Published
2021-07-19