Keproduktifan Afiks dalam Proses Morfologis Bahasa Manggarai Dialek Umum

indonesia

Authors

  • Kanisius barung Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus

Keywords:

proses morfologis, keproduktifitasan afis, afiks produktif

Abstract

Bahasa Manggarai (BM) di Provinsi Nusa Tenggara Timur bukan bahasa derivatif karena miskin afiks. Istilah miskin afiks berarti bahwa ada afiks, tetapi keberadaannya terbatas.  Keterbatasan jenis afiks tidak selalu berarti bahwa afiks BM improduktif. Penelitian sederhana ini bertujuan mengeksplanasikan keproduktifan keberadaan afiks BM secara sinkronis. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan metode simak.  Tindakan paling awal dalam pelaksanaan metode simak adalah tindakan pencatatan konteks data oleh peneliti sebagai penutur asli. Konteks data adalah kata-kata BM yang bermuatan afiks. Kata-kata BM tersebut didaftarkan oleh peneliti untuk diklarifikasi oleh informan. Data yang telah diklarifikasi itu dianalisis dengan menggunakan metode refleksif-introspektif. Hasil analisis data terungkap bahwa keproduktifan afiks BM berkarakteristik produktif dan improduktif. Ada empat afiks produktif, yaitu  prefiks ce-, te-, du-, dan sufiks atonik –n. Ada prefiks produktif yang derivatif dan ada pula yang infleksional. Prefiks produktif infleksional adalah prefiks yang tidak mengubah jenis kata dasar menjadi kata bentukan yang berjenis lain.  Sementara itu, ada sebelas afiks improduktif, yaitu prefiks s-, h-, le, ngger-, né-, ne-, nu-, be-, b-n, dan sufiks atonik –k dan –ng. Ada sufiks BM yang derivatif dan ada pula yang infleksional.

Published

2020-07-31