BENTUK DAN SISTEM PENGUNGKAP TINGKAT TUTUR BAHASA JEPANG
indonesia
Keywords:
Futsuukei, Keigo, Sonkeigo, Kenjougo, TeineigoAbstract
Tuturan dalam bahasa Jepang memiliki tingkatan berbahasa yang membedakan antara bahasa hormat dan nonhormat atau bahasa biasa. Penggunaan bahasa ini harus memperhitungkan posisi masing-masing pelaku tuturan. Masing-masing tingkatan bahasa ini memiliki penanda kebahasaan dan nonkebahasaan. Penanda kebahasaan terkait dengan pemilihan kata berdasarkan leksikal, morfologi, dan sintaksis. Penanda bahasa tersebut dituturkan dengan memperhatikan faktor faktor sosial yang meliputi; posisi sosial para pelaku tuturan, faktor kedekatan, perbedaan usia, lokasi atau tempat terjadinya tuturan, dan topik tuturan. Berdasarkan kajian teori mengenai tingkat tutur bahasa Jepang, dapat disimpulkan bahwa salah satu hal yang dapat membedakan penggunaan tingkat tutur bahasa Jepang adalah ihwal penggunaan kata-kata dalam kalimat (baik secara leksikal, sintaksis dan bentuk bentuk morfologis kata-kata tersebut). Penggunaan secara leksikal adalah kata-kata atau kosakata yang digunakan dalam kalimat dengan arti tertentu tanpa ada perubahan secara morfologis. Penggunaan secara sintaksis adalah mengenai posisi kata dalam sebuah kalimat, sedangkan secara morfologis adalah kata-kata yang digunakan dalam kalimat dengan perubahan bentuk mengikuti pola tertentu