PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN GLOBALISASI: UNTUK PROFIT ATAU CULTIVATING HUMANITY?
DOI:
https://doi.org/10.36928/jpkm.v7i2.654Keywords:
pendidikan multikultural, globalisasi, pedagogi dialektikaAbstract
Keterbukaan terhadap yang lain hanya mungkin kalau orang saling belajar dengan menatap ke depan, memandang setiap keberlainan dengan cita rasa kemanusiaan yang kaya makna, penuh empati. Yang Lain dalam konteks tanggung jawab etis yang asimteris (Levinas), dalam terang hubungan interpersonal yang mutual (Paul Ricoeur) dan dalam kesanggupan mengantisipasi kemustahilan kedatangan yang lain, suatu antisipasi yang membutuhkan keberanian untuk menghadapi segala situasi yang tidak dapat diduga sebelumnya (Jacques Derrida). Oleh karena itu, pendidikan yang adekuat untuk hidup dalam suatu iklim demokrasi yang pluralistik adalah pendidikan yang multikultural. Pendidikan multikutural mengajarkan anak didik untuk mengenal dan terbuka terhadap kisah dan narasi hidup serta kultur kelompok yang lain, baik dari dimensi religius, etnis, ekonomis, politis dan gender. Dalam dimensinya yang global, pendidikan multikultural membutuhkan kontribusi interaktif dari pengetahuan sejarah, geografi, studi kebudayaan yang interdisipliner, sejarah hukum dan sistim politik serta studi-studi keagamaan.



