Puan Telu Nau Tonen sebagai Ajaran Moral bagi Masyarakat Nelle Urung, Kabupaten Sikka, NTT

  • Nong Hoban Universitas Flores
  • Aurelius Fredimento Universitas Flores
  • Eduardus Yovantus Abut Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
Keywords: puan telu nau tonen, keharmonisan, masyarakat Sikka

Abstract

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana keharmonisan yang dibangun oleh masyarakat Sikka terhadap Wujud Tertinggi, manusia, dan alam lingkungan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keharmonisan yang dibangun  oleh masyarakat Sikka terhadap Wujud Tertinggi, manusia, dan alam lingkungan. Methode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data sebagai berikut reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puan telu nau tonen memiliki tiga pokok ajaran masyarakat Sikka dalam menjaga keharmonisan warga masyarakat Sikka dengan Wujud Tertinggi dan leluhur. Hal ini terbukti bahwa masyarakat Sikka mengakui Wujud Tertinggi sebagai pencipta dan penguasa alam jagad raya Ama Pu atau Ain Deot Lero Wulan dan leluhur (nitu noan) sebagai pengantara, keharmonisan antara manusia dengan manusia.

References

Anh, ToThi. (1975). Eastern and Western Cultur Values, Conflichtor Harmony East Asian. Manila Philippine: Pastoral Institute.

Astra, I Gede Semadi. (2004). ”Refitalisasi Kearifan Lokal dalam Upaya Memperkokoh Jati Diri Bangsa. Makalah Seminar Internasional Seni Sastra, Sosial, Budaya”. Fakultas Sastra, Denpasar 19 Juli 2004.

Bagus, Ngurah Gusti I. (2004). Mengkritisi Peradaban Hegemink. Denpasar: Kajian Budaya Denpasar

Barker, C. (2005). Cultural Studies.Yogyakarta Penerbit Kreasi Wacana

Budiasih, Ni Made. (2019). “Perwujudan Keharmonisan Hubungan antara Manusia dengan Alam dalam Upacara Hindu di Bali”. Jurnal Widya Duta. Vol. 14, no. 1. Hal. 29-38.

Fernandez, O.S. SVD. (1987). Hinduisme Citra Manusia Budaya Timur dan Barat.Ende: Nusa Indah.

------------------------- (1990). Kebijakan Manusia Nusa Tenggara Timur Dulu dan Kini. Ende: Nusa Indah.

Ginanjar, Agustian Ary. (2004). ”Spiritualitas Enginering”. Makalah dipresentasikan pada Loka Karya Masalah Kebangsaaan dengan tema: Menyelesaikan Krisis Kebangsaan Guna Menyongsong Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang lebih Baik. Bandung 12-13 Mei 2004.

Kartika, I Made & Putu Ronny Angga Mahendra. (2021). ”Membangun Karakter Berlandaskan Tri Hita Karana dalam Perspektif Kehidupan Global”. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha. Vol. 9., no. 2. Mei 2021. Hal. 423-430.

Kleden, B., Paulus. SVD. (2003). Teologi Terlibat Politik dan Budaya dalam Terang Teologi. Maemere: Ledalero.

Miles, Mathew & Huberman, A. Michael. (2014). Qualitative Data Analisis. London: Sage.

Nashir, Haedar. 1999. Agama dan Krisis Kemanusian Moderen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sairin Sjafri, (2001). Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sudartha Rai Tjokro. (2005). Kompetensi Budaya dalam Globalisasi. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Sena, I Gusti Made Widya. (2018). “Relasi Manusia, Alam dan Tuhan dalam Harmonisasi Semesta”. Jurnal Sphatika, vol. 9. no. 1., Tahun 2018. Hal. 15-23

Sumardjo, Jakob. (2003). Mencari Sukma Indonesia. Yogyakarta: AK Group.

T., Jakob. (1993). Manusia, Ilmu dan teknologi. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Tim Sosialisasi Penyemaian Jati Diri Bangsa. (2003). Membangun Kembali Karakter Bangsa. Hari Depan Bangsa Ada Di Tangan Anda Yang memiliki Jati Diri. Jakarta: Pt. Elex Media Komputindo.

Wijono, Hadi. (1979). Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: Gramedia

Published
2021-07-30
How to Cite
Hoban, N., Fredimento, A., & Abut, E. Y. (2021). Puan Telu Nau Tonen sebagai Ajaran Moral bagi Masyarakat Nelle Urung, Kabupaten Sikka, NTT. PROLITERA: Jurnal Penelitian Pendidikan, Bahasa, Sastra, Dan Budaya, 4(1), 33-42. https://doi.org/10.36928/jpro.v4i1.863
Section
Articles