PERSPEKTIF BUDAYA MANGGARAI TENTANG ATA PE’ANG DAN ATA ONE

Authors

  • Benedikta Maria Sinta Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
  • Katarina Isabela Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
  • Belasius Saghing Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
  • Ans Prawati Yuliantari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

Keywords:

kebudayaan, simbolis, masyarakat, Manggarai

Abstract

Konsep ata pe’ang dan ata one dalam budaya Manggarai menunjukkan posisi seseorang dalam keluarga yang berkaitan dengan gender. “Ata one” merupakan bahasa simbolis bagi kaum lakilaki dan “ata pe’ang” merupakan bahasa simbolis bagi kaum perempuan. Dua istilah ini muncul sejak seorang manusia dilahirkan. Berdasarkan posisinya dalam struktur adat Manggarai, ata pe’ang dana ta one memiliki hak dan kewajiban yang mengikat. Hak dan kewajiban itu masing-masing pihak harus dilaksanakan untuk menjamin harmonisasi hubungan antar keluarga. Di balik hak dan kewajiban itu terdapat harapan untuk menjaga kerukunan dan hubungan persaudaraan yang saling mendukung. Artikel ini bertujuan untuk melihat bagaimana orang Manggarai memandang posisi ata pe’ang dan ata one dalam struktur sosial dan budayanya. Perspektif orang Manggarai terhadap sistem kekerabatan ini ternyata tidak berubah meskipun modernitas telah memasuki masyarakat Manggarai.

Downloads

Published

2025-06-09