RITUS RA’UM BUBUNG MBARU DI MANGGARAI, NUSA TENGGARA TIMUR
Keywords:
ritus, ra’um bubung mbaru, budaya, manggaraiAbstract
Ra’um bubung mbaru merupakan salah satu tradisi orang Manggarai sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritus upacara ra’um bubung mbaru, penutur torok (petudak) duduk di atas atap rumah serta keluarga dan undangan lain yang hadir duduk membentuk lingkaran (lonto leok) di tanah beralaskan loce (tikar) sebagai tanda persaudaraan. Ritus adat ini dibuat untuk keselamatan rumah dan penghuninya setelah pendirian rumah selesai. Secara etimologi, kata ra’um berarti merapat dan bubung mbaru berarti “atap rumah”. Jadi ra’um bubung mbaru adalah merapatkan atap rumah. Ritus adat ini mengandung budaya lonto leok yang diturunkan dari nenek moyang orang Manggarai. Manuk (ayam) dijadikan hewan kurban dalam acara ini. Upacara Ra’um bubung mbaru ini dilakukan setelah hese mbaru (membangun rumah) dan ditandai dengan adanya langkar (tempat menyimpan sesajen) untuk mori jari agu dedek (Tuhan maha pencipta) dan naga tanah (penjaga tanah). Tradisi ini tetap dilaksanakan meskipun modernitas telah memasuki Manggarai. Meskipun demikian terdapat pergeseran dalam pelaksanaannya untuk mengikuti situasi dan kondisi masyarakat dewasa ini.
